Jumat, 31 Oktober 2014

HUDA DAN HIDAYAH



Huda dan Hidayah adalah kakak beradik dari pasangan Bapak Hadun dan Ibu Hindun. Huda kelas enam SD dan adiknya, Hidayah kelas tiga SD. Keduanya berada di sekolahan yang sama, untuk mempermudah pengawasan dari orang tua mereka.
Suatu hari, ketika Hidayah berangkat ke sekolah bersepeda dengan Huda, pukul setengah tujuh, mereka melihat orang tua renta yang kelihatan sedang kebingungan, di tangan orang tua renta itu ada sebungkus plastik hitam. Lantaran Huda merasa simpati, dia mengajak Hidayah menghampiri orang tua itu,
“Jangan ah Kak, nanti kalau dia penjahat, bagaimana Kak?” tolak Hidayah takut,
“Orang setua itu dikira penjahat, Dik? Tidak mungkin, jalan saja kelimpungan begitu. Ayo lah hampiri ia sejenak” rayu Huda, dan Hidayah mengiyakan.
“Permisi, kalau boleh tahu, bapak hendak kemana?” tanya Huda memulai dengan ramah, orang tua itu agak terkejut dan menoleh sedikit ke arah keduanya,
“Bapak mau menemui anak Bapak” jawabnya polos, bicaranya sudah tidak begitu lancar, nampak jelas raut tua dan kelemah-lunglaiannya,
“Rumah anak Bapak di mana?” tanya Huda kemudian,
“Tidak tahu” jawabnya lagi terbata-bata, Huda mengkeryitkan dahi, Hidayah khusyuk menyimaknya,
“Lho, kok tidak tahu, Pak? Memangnya Bapak dari mana?” tanya Huda lagi, ia merasa iba,
“Saya dari sukabumi, Nak. Anak saya sudah lima tahun ini merantau ke Jakarta, dia tidak pernah pulang” jawabnya mulai terisak, gagap ucapannya terdengar serak lantaran kerongkongan tuanya. Seketika Huda berfikir keras bagaimana cara menolong orang tua naas ini,
“Menurut Dik Hidayah bagaimana?” ucap Huda meminta pendapat adiknya,
“Hmm, dibawa ke sekolahan saja, Kak” jawab Hidayah spontan,
“Haaah dibawa ke sekolahan? Terus nanti di sekolahan bagaimana?” tanya Huda lagi bingung,
“Hehe tidak tahu, Kak” jawab Hidayah sambil tersenyum aleman. Huda memejamkan mata sebentar, tanda ia sedang berfikir. Lalu ketika matanya terbuka ia langsung mendekati orang tua itu lebih dekat lagi,
“Bapak ikut saya saja ke sekolah ya, Pak?” tawar Huda halus,
“Tidak, Nak. Saya akan menemui anak saya saja” jawab orang tua itu menolak. Huda menoleh ke arah Hidayah, Hidayah geleng-geleng kepala saja,
“Bagaimana nih, Dik?” tanya Huda berharap ada cara,
“Ya sudah, Kak, kalau tidak mau ya sudah” jawab Hidayah enteng. Huda terdiam dan nampak menahan gemes pada adiknya itu,
“Terhadap sesama manusia itu kita harus saling menolong, Dik. Apalagi terhadap oarang yang sedang tersesat dan sesusahan seperti Bapak ini” bicara Huda menasehati, Hidayah mengiyakan dan hanya senyum saja,
“Dik, bagaimana ini?”
“Tidak tahu, Kak”
“Kalau kita antar saja ke rumah anaknya itu bagaimana, Dik?” ucap Huda mencoba berdiskusi. Berdiskusi memang budaya yang selalu ditekankan kedua orang tua Huda dan Hidayah di manapun. Hal tersebut sudah terpupuk dalam diri Huda dan mulai menyemai di diri Hidayah,
“Nanti sekolah kita terlambat, Kak?” jawab Hidayah polos,
“Alamat anak Bapak ini itu tidak jauh dari sekolah kita, Dik. Nanti setelah mengantarkan Bapak ini kita langsung ke sekolah, bagaimana?” Huda menjelaskan, lantaran Huda baru saja meliaht alamat anak orang tua itu, Hidayah yang masih berusia delapan tahun kelihatan bingung dan mulai berfikir, ia teringat perkataan Ibunya kemarin; kebaikan yang tulus itu akan menularkan kebaikan selanjutnya, jadi janganlah menunda perbuatan baik. Hidayah sesegera mengiyakan pendapat kakaknya itu,
“Iya deh, Kak. Ayo kita berangkat ke alamat anak Bapak itu” ucap Hidayah semangat, Huda sumringah dan menjawil pipi imut Hidayah,
“Begitu dong, adik kakak yang baik” goda Huda.
Tanpa menunggu waktu lama, orang tua itu membonceng sepeda Huda, sedang Hidayah mengikuti di belakangnya.
Sesampai di alamat yang di tuju, raut wajah orang tua itu berseri-seri dan memendung hendak mengeluarkan air mata, lantaran sebentar lagi ia akan bertemu anaknya yang sudah lama tidak ia jumpai itu.
Mereka bertiga berbarengan melangkah ke halaman rumah berukuran sedang yang dimaksud, orang tua itu nampak tergesa-gesa dan segera mengetok pintunya di sertai salam, namun tidak ada yang menjawab dan membukanya. Orang tua itu mengulangi ketokannya dan salam, masih terdiam dan tak ada yang membuka. Huda melangkah ke depan dan mengetoknya di sertai salam pula, selang kemudian terdengar jawaban salam dari dalam, dan terbukalah pintu itu,
“Siapa yah? Mau mencari siapa?” sapa seorang perempuan muda dengan mengenakan daster kusuh,
“Ini benar rumahnya Pak Kosasih?” tanya Huda mendahului orang tua itu yang mulutnya sudah siap berucap,
“Iya, Kosasihnya ada? Mana dia? Saya bapaknya” ucap orang tua itu terburu-buru, ia sudah menahan rindu yang begitu dalam. Perempuan itu memperlihatkan wajah terkejut dan berseri-seri tersenyum kecil,
“Ini Bapak? Ini Pak Tasmadi dari Sukabumi? Bapaknya Aa Kosasih? Ya ampun Bapak” ucap perempuan itu sambil terisak,
“Saya Sunarti, Pak, menantu Bapak. Maaf Pak belum sempat menjenguk Bapak” imbuh perempuan itu menambahi,
“Iya tidak apa-apa. Ko ko kosasihnya mana?” orang tua itu merasa maklum dan sekali lagi menanyakan anaknya dengan terbata-bata, 
“Aa Kosnya sedang bekerja, Pak. Oh iya silahkan masuk silahkan. La anak-anak ini siapa, Pak?” perempuan itu mempersilahkan Bapak, Huda, dan Hidayah,
“Mereka yang menolong saya dan menghantarkan saya ke sini” jawab orang tua itu,
“Oh ya ampun, terima kasih, Adik-adik. Kalian baik sekali, semoga selalu diberi kelancaran dalam belajar” ucap perempuan itu sumringah dan mengelus pipi Hidayah,
“amiin, Sama-sama Bu. Maaf sebelumnya” balas Huda,
“Kami pamit saja, karena kami harus sekolah” lanjutnya,
“Iya iya silahkan, hati-hati di jalan” ucap perempuan itu. Keduannya berlalu dengan didahului salaman keduanya kepada perempuan dan orang tua itu. Perempuan dan orang tua itu sumringah dan merasa bangga ada anak-anak sebaik Huda dan Hidayah.
Huda dan Hidayah dengan cepat namun hati-hati mengayuh sepeda mereka, sesampai di sekolah, upacara bendera sudah dimulai, Huda dan Hidayah memasuki arena upacara, namun ketahuan Pak Karto,
“Huda dan Hidayah kok terlambat” sapa Pak Karto dari depan Huda dan Hidayah, mereka kaget dan ada raut gugup,
“Maaf, Pak, kami tadi harus menghantarkan orang tua yang kelelahan dan sedang bingung mencari rumah anaknya” ucap Huda apa adanya,
“Benar, Hidayah?” tanya Pak Karto kepada Hidayah,
“Benar, Pak. Kami menemukannya di jalan, Karena orang tua itu sedang bingung kami menolongnya” jawab Hidayah polos. Pak Karto percaya, terenyuh dan membawa keduanya ke depan, setelah itu Pak karto mengumumkan kepada peserta upacara;
“Peserta upacara semuanya, Huda dan Hidayah terlambat upacara dua menit”
“Huuuuuh” riuh sebagian peserta upacara, Huda dan Hidayah nampak malu seketika,
“Perlu kalian ketahui semua, keduanya terlambat karena terlebih dahulu menolong orang tua yang sedang kebingungan dan hendak mencari rumah anaknya” sambung Pak Karto menggelegar, sambutan tepuk tangan meriah pun datang menggema dari seluruh peserta upacara, Huda dan Hidayah tersenyum, Pak Karto pun juga,
“Perbuatan Huda dan Hidayah adalah contoh budi pekerti yang baik. Kalian, wahai anak-anakku, contohlah mereka, tampilkan budi pekerti baik kalian baik di sekolah, di rumah, maupun di lingkungan manapun” ucap Pak Karto menggelegar,
“Sekali lagi, beri tepuk tangan untuk Huda dan Hidayah” Pak Karto mengakhiri. Lalu Pak karto memeluk keduanya disertai gemuruh tepuk tangan suka cita dari peserta upacara. 

Benda, 06 Oktober 2014.

KALONG WEWE


Saat senja datang, aku dan teman-temanku, segerombolan anak-anak desa Suka Maju menghentikan permainan rutin; petak umpet, lantaran hari sudah hampir gelap dan Kalong Wewe berhambur keluar mencari anak-anak yang masih bermain, begitu kata orang-orang tua serempak sama.
“Jika ada anak-anak yang masih bermain di saat hari sudah petang, maka Kalong Wewe mengincarnya” kata Pak Karto serius kepadaku saat itu. Aku termangu dan membayangkan betapa diriku yang masih kelas enam SD  dan berperawakan kecil ini, pasti akan sangat takut jika bertemu dengan Kalong Wewe. Ada kucing bertengkar saja aku takut, bahkan jika mau tidur Ibu selalu menghantarku ke kamar mandi.
“Lalu Kalong Wewe berubah wujud menjadi keluarga dari salah satu anak-anak itu, dan membawa anak yang diincarnya jauh” terus Pak Karto sembari melotot dan menunjuk arah jauh ke kegelapan hutan,
“Biasanya, kebanyakan anak yang dibawa Kalong Wewe itu akan ditaruh di pohon salak, diasuh selayaknya seorang peliharaan. Dan perlu diketahui, dari sebagian anak yang dibawa Kalong Wewe itu pada akhirnya tumbuh menjadi anak yang bodoh dan dongo” aku mengiyakan dan melongo lagi menatap Pak Karto penuh khusyuk. Bulu kuduku tanpa kusadari berdiri meruncing.
“Kalian lihat ” lanjut Pak Karto semangat dan berusaha merubah duduknya,
“Jarwo anaknya Mbok Sum itu? Dulu saat dia kecil dibawa Kalong Wewe, sekarang kalian lihat kan? Dia nampak dongo dan bodoh” aku mengiyakan dan ketakutan juga.
 Selepas sholat Maghrib berjama'ah di Musholla, aku dan teman-temanku tidak beranjak pulang, di samping karena orang-orang tuaku dan orang tua teman-temanku  masih di Musholla, juga karena diwajibkan mengaji pada ustadz Zakaria, ustadz tua yang semangatnya mengalahkan anak-anak muda. Bahkan sebagian kecil orang-orang tua peserta pengajian dulunya mengaji pada ustadz Zakaria. Beliau ini kosisten sekali dalam mengajar anak-anak desa Suka Maju. Saban malam rutinitas beliau mengajar, pagi sampai siang beliau gunakan buat bercocok tanam di ladang.
Di penghujung pengajian, seperti biasa ustadz Zakaria memberikan pekerjaan rumah,
“Anak-anakku yang berbahagia, Allah Yang Maha Kuasa itu menciptakan banyak makhluq; termasuk manusia, jin, dan syaitan. Janganlah kalian takut, jika menemui hal-hal yang menakutkan, bacalah surat Al Ikhlas, Al Falaq, dan Annas, insya Allah mereka tidak akan mengganggu,” anak-anak mantuk tanda mengerti,
“Pekerjaan rumah kali ini berupa hafalan surat Al 'Ashr, besok malam harus sudah hafal semua, siap, anak-anak?”
“Siap!!” serempak anak-anak menjawab.
*****
Senja kali ini aku tak bermain petak umpet bersama teman-teman. Karena bapakku sedang dinas keluar kota, aku menemani ibu menyirami taman di teras rumah, sampai senja datang aku dan ibu baru selesai. Lalu aku siap-siap menuju Musholla,
“Aku berangkat dulu, Bu” pamitku sembari mengajaknya salaman dan cium tangan,
“Iya nak Kinan, hati-hati di jalan” jawab dan pesan ibu,
Enggih, Ibu” jawabku kemudian keluar rumah disaksikan ibu dari dalam.
Di jalan yang sudah hampir gelap kumerasakan perasaan yang berbeda, suasana senja kali ini seram dan tak mengenakkan. Kuterus berjalan, tatapanku tetap kedepan. Jalan yang kulalui kali ini perkebunan kelapa sepanjang seratus meter, aku merinding, aku ingin menangis, kucepatkan langkahku,
“Kinan, tunggu aku” sapa suara dari belakang badanku, aku kaget dan tak lekas menoleh, biar ia yang menyusulku saja ke depan. Namun tak kunjung keliahatan di samping, aku semakin merinding lantaran kuingat-ingat suaranya tak kenal, kuberanikan menjawab,
“Ayuk berangkat bareng” jawabku pelan, yakinku dia mendengar ajakanku karena senja kali ini sunyi,
“Kinan tidak usah mengaji dulu malam ini, paman akan mengajak Kinan makan malam bersama keluarga paman, dan mengajak Kinan bermain ke Time Zone”
“Haaah ternyata paman?” gumanku dalam hati, takutku sirna seketika. Namun kuteringat ucapan Ayah kemarin ketika hendak bepergian,
“Hmm, bukannya paman sedang keluar kota dengan Ayah?” ingatnya lagi,
“Huks” takutku kembali menghampiri dan semakin menjadi, bulu kuduku semakin meruncing, jantungku berdetak tak karuan,
“Jangan-jangan di belakangku Kalong Wewe” lamunanku mulai tak masuk akal,
“Tolong aku ya Allah, huks” pinta dan ratapnya sedih,
Bismillahirrahman arrahim, Qul huwallahu ahad..” tanpa berfikir panjang kulafalkan surat-surat yang diajarkan ustadz Zakaria kemaren, sembari mataku kupejamkan, serasa hangat kepanas-panasan membasahi celanaku, tak kuhiraukan.
Usai sudah surat-surat pendek ajaran ustadz Zakaria kubaca, bulu kuduku masih meruncing pertanda takut, rindingku serasa di ujung kutub sana.
“Masihkah orang itu di belakangku?” aku mencoba menoleh ke belakang, namun tak berani, kulafalkan sekali lagi surat Al Ikhlas, Al Falaq, dan Annas dengan cepat dan sedikit tak menghiraukan aturan-aturan tajwid yang diajarkan ustadz Zakaria.
“Ya Allah tolonglah hamba” pintaku di akhir bacaan yang kubaca. Kuberanikan menoleh, dan di belakangku tak ada siapa-siapa. Bukannya senang yang kurasa, takutku semakin membuncah dan aku berlari sekuat tenaga menuju arah Musholla.
Sesampai di Musholla  ustadz Zakaria menghampiriku, terkejut melihat mimik dan polahku yang serasa masih ketakutan, beliau menenangkanku dan memberiku air minum. Setelah kucerita yang kualami, beliau memahami dan memelukku erat. Hangat celanaku tak kurisaukan dan sejenak kemudian aku di antar pulang oleh beliau.
Ibu menjagaku malam ini, ia tidur bersamaku, meninak bobokkan aku, sesekali memelukku, membelai rambutku, dan membacakan do'a untukku.
Di dalam tidurku aku bermimpi di tempat di mana aku mengalami kejadian senja tadi, orang yang mengaku pamanku itu menghampiriku pelan, ia menunduk, ia meminta maaf telah menakut-nakutiku, ia merasa menyesal dan merinding mendengar bacaan-bacaan yang kubaca, ia berjanji tidak akan mengganggu anak-anak lagi selama anak-anak itu berbuat baik terhadap sesama, tidak nakal dan suka mengaji serta belajar agama, aku lega. Lalu aku terbangun tepat setengah lima,
“Ibu, sholat Shubuh', yuk” Ibu mengiyakan dan aku senang rasa beraniku kembali ada. Keesokan harinya aku tidak lagi takut ketika berangkat mengaji dan pergi ke Musholla.