Saat senja datang, aku dan teman-temanku, segerombolan anak-anak
desa Suka Maju menghentikan permainan rutin; petak umpet, lantaran hari sudah
hampir gelap dan Kalong Wewe berhambur keluar mencari anak-anak yang masih
bermain, begitu kata orang-orang tua serempak sama.
“Jika ada anak-anak yang masih bermain di saat hari sudah petang,
maka Kalong Wewe mengincarnya” kata Pak Karto serius kepadaku saat itu. Aku
termangu dan membayangkan betapa diriku yang masih kelas enam SD dan berperawakan kecil ini, pasti akan sangat
takut jika bertemu dengan Kalong Wewe. Ada kucing bertengkar saja aku takut,
bahkan jika mau tidur Ibu selalu menghantarku ke kamar mandi.
“Lalu Kalong Wewe berubah wujud menjadi keluarga dari salah satu
anak-anak itu, dan membawa anak yang diincarnya jauh” terus Pak Karto sembari
melotot dan menunjuk arah jauh ke kegelapan hutan,
“Biasanya, kebanyakan anak yang dibawa Kalong Wewe itu akan ditaruh
di pohon salak, diasuh selayaknya seorang peliharaan. Dan perlu diketahui, dari
sebagian anak yang dibawa Kalong Wewe itu pada akhirnya tumbuh menjadi anak
yang bodoh dan dongo” aku mengiyakan dan melongo lagi menatap Pak Karto penuh
khusyuk. Bulu kuduku tanpa kusadari berdiri meruncing.
“Kalian lihat ” lanjut Pak Karto semangat dan berusaha merubah duduknya,
“Jarwo anaknya Mbok Sum itu? Dulu saat dia kecil dibawa Kalong
Wewe, sekarang kalian lihat kan? Dia nampak dongo dan bodoh” aku mengiyakan dan
ketakutan juga.
Selepas sholat Maghrib
berjama'ah di Musholla, aku dan teman-temanku tidak beranjak pulang, di samping
karena orang-orang tuaku dan orang tua teman-temanku masih di Musholla, juga karena diwajibkan
mengaji pada ustadz Zakaria, ustadz tua yang semangatnya mengalahkan anak-anak
muda. Bahkan sebagian kecil orang-orang tua peserta pengajian dulunya mengaji
pada ustadz Zakaria. Beliau ini kosisten sekali dalam mengajar anak-anak desa
Suka Maju. Saban malam rutinitas beliau mengajar, pagi sampai siang beliau
gunakan buat bercocok tanam di ladang.
Di penghujung pengajian, seperti biasa ustadz Zakaria memberikan
pekerjaan rumah,
“Anak-anakku yang berbahagia, Allah Yang Maha Kuasa itu menciptakan
banyak makhluq; termasuk manusia, jin, dan syaitan. Janganlah kalian takut,
jika menemui hal-hal yang menakutkan, bacalah surat Al Ikhlas, Al Falaq, dan
Annas, insya Allah mereka tidak akan mengganggu,” anak-anak mantuk tanda
mengerti,
“Pekerjaan rumah kali ini berupa hafalan surat Al 'Ashr, besok malam harus sudah hafal semua, siap, anak-anak?”
“Pekerjaan rumah kali ini berupa hafalan surat Al 'Ashr, besok malam harus sudah hafal semua, siap, anak-anak?”
“Siap!!” serempak anak-anak menjawab.
*****
Senja kali ini aku tak bermain petak umpet bersama teman-teman.
Karena bapakku sedang dinas keluar kota, aku menemani ibu menyirami taman di
teras rumah, sampai senja datang aku dan ibu baru selesai. Lalu aku siap-siap
menuju Musholla,
“Aku berangkat dulu, Bu” pamitku sembari mengajaknya salaman dan
cium tangan,
“Iya nak Kinan, hati-hati di jalan” jawab dan pesan ibu,
“Enggih, Ibu” jawabku kemudian keluar rumah disaksikan ibu
dari dalam.
Di jalan yang sudah hampir gelap kumerasakan perasaan yang berbeda,
suasana senja kali ini seram dan tak mengenakkan. Kuterus berjalan, tatapanku
tetap kedepan. Jalan yang kulalui kali ini perkebunan kelapa sepanjang seratus
meter, aku merinding, aku ingin menangis, kucepatkan langkahku,
“Kinan, tunggu aku” sapa suara dari belakang badanku, aku kaget dan
tak lekas menoleh, biar ia yang menyusulku saja ke depan. Namun tak kunjung
keliahatan di samping, aku semakin merinding lantaran kuingat-ingat suaranya
tak kenal, kuberanikan menjawab,
“Ayuk berangkat bareng” jawabku pelan, yakinku dia mendengar
ajakanku karena senja kali ini sunyi,
“Kinan tidak usah mengaji dulu malam ini, paman akan mengajak Kinan
makan malam bersama keluarga paman, dan mengajak Kinan bermain ke Time Zone”
“Haaah ternyata paman?” gumanku dalam hati, takutku sirna seketika.
Namun kuteringat ucapan Ayah kemarin ketika hendak bepergian,
“Hmm, bukannya paman sedang keluar kota dengan Ayah?” ingatnya
lagi,
“Huks” takutku kembali menghampiri dan semakin menjadi, bulu kuduku
semakin meruncing, jantungku berdetak tak karuan,
“Jangan-jangan di belakangku Kalong Wewe” lamunanku mulai tak masuk
akal,
“Tolong aku ya Allah, huks” pinta dan ratapnya sedih,
“Bismillahirrahman arrahim, Qul huwallahu ahad..” tanpa
berfikir panjang kulafalkan surat-surat yang diajarkan ustadz Zakaria kemaren,
sembari mataku kupejamkan, serasa hangat kepanas-panasan membasahi celanaku,
tak kuhiraukan.
Usai sudah surat-surat pendek ajaran ustadz Zakaria kubaca, bulu
kuduku masih meruncing pertanda takut, rindingku serasa di ujung kutub sana.
“Masihkah orang itu di belakangku?” aku mencoba menoleh ke
belakang, namun tak berani, kulafalkan sekali lagi surat Al Ikhlas, Al Falaq,
dan Annas dengan cepat dan sedikit tak menghiraukan aturan-aturan tajwid yang
diajarkan ustadz Zakaria.
“Ya Allah tolonglah hamba” pintaku di akhir bacaan yang kubaca.
Kuberanikan menoleh, dan di belakangku tak ada siapa-siapa. Bukannya senang
yang kurasa, takutku semakin membuncah dan aku berlari sekuat tenaga menuju
arah Musholla.
Sesampai di Musholla ustadz
Zakaria menghampiriku, terkejut melihat mimik dan polahku yang serasa masih
ketakutan, beliau menenangkanku dan memberiku air minum. Setelah kucerita yang
kualami, beliau memahami dan memelukku erat. Hangat celanaku tak kurisaukan dan
sejenak kemudian aku di antar pulang oleh beliau.
Ibu menjagaku malam ini, ia tidur bersamaku, meninak bobokkan aku,
sesekali memelukku, membelai rambutku, dan membacakan do'a untukku.
Di dalam tidurku aku bermimpi di tempat di mana aku mengalami
kejadian senja tadi, orang yang mengaku pamanku itu menghampiriku pelan, ia
menunduk, ia meminta maaf telah menakut-nakutiku, ia merasa menyesal dan
merinding mendengar bacaan-bacaan yang kubaca, ia berjanji tidak akan
mengganggu anak-anak lagi selama anak-anak itu berbuat baik terhadap sesama,
tidak nakal dan suka mengaji serta belajar agama, aku lega. Lalu aku terbangun
tepat setengah lima,
“Ibu, sholat Shubuh', yuk” Ibu mengiyakan dan aku senang rasa
beraniku kembali ada. Keesokan harinya aku tidak lagi takut ketika berangkat
mengaji dan pergi ke Musholla.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar