19, 2008
Engkau Matahari Engkau Bulan (Membedah Kitab Al-Barzanji)
Posted by yasir maqosid under Bedah Buku | Tag: Bedah Buku, Kitab Al-Barzanji |
[9] Comments
Pancaran
kharisma Nabi Muhammad SAW terpantul pula dalam sejumlah puisi. Karya
Ja’far bin Hasan bin Abdul Karim al-Barzanji (c. 1100-1179 H /
1690-1766 M) adalah salah satu di antaranya, yang termasyhur: Seuntai
gita untuk pribadi utama, yang didendangkan dari masa ke masa. Di
Indonesia, kita biasa menyebutnya “kitab Barzanji” atau “syair
Barzanji”.
Di berbagai belahan Dunia Islam, syair Barzanji
lazimnya dibacakan dalam kesempatan memeringati hari kelahiran (maulid)
Sang Nabi. Dengan mengingat-ingat riwayat Sang Nabi, seraya
memanjatkan shalawat serta salam untuknya, orang berharap mendapat
berkah keselamatan, kesejahteraan, dan ketenteraman. Sudah lazim pula,
tak terkecuali di negeri kita, syair Barzanji didendangkan –biasanya,
dalam bentuk standing ovation– di kala menyambut bayi yang baru lahir
dan mencukur rambutnya.
Ja’far al-Barzanji adalah qadhi (hakim)
dari mazhab Maliki yang bermukim di Madinah. Ia adalah salah seorang
keturunan (buyut) dari cendekiawan besar Muhammad bin Abdul Rasul bin
Abdul Sayyid al-Alawi al-Husain al-Musawi al-Shaharzuri al-Barzanji
(1040-1103 H/1630-1691 M), Mufti Agung dari mazhab Syafi’i di Madinah.
Sang mufti (pemberi fatwa) berasal dari Shaharzur, kota kaum Kurdi di
Iraq, lalu mengembara ke berbagai negeri sebelum bermukim di Kota Sang
Nabi. Ia, bersama sejumlah keturunannya, bersemayam di makam al-Baqi,
Madinah.
Dalam bukunya, Dan Muhammad adalah Utusan Allah:
Penghormatan terhadap Nabi SAW dalam Islam (1991), sarjana Jerman
peneliti Islam, Annemarie Schimmel, menerangkan bahwa teks asli
karangan Ja’far al-Barzanji, dalam bahasa Arab, sebetulnya berbentuk
prosa. Namun, para penyair kemudian mengolah kembali teks itu menjadi
untaian syair, sebentuk eulogy bagi Sang Nabi.
Untaian syair
itulah yang tersebar ke berbagai negeri di Asia dan Afrika, tak
terkecuali Indonesia. Tidak tertinggal oleh umat Islam penutur bahasa
Swahili di Afrika atau penutur bahasa Urdu di India, kita pun dapat
membaca versi bahasa Indonesia dari syair itu, semisal hasil terjemahan
HAA Dahlan atau Ahmad Najieh, meski kekuatan puitis yang terkandung
dalam bahasa Arab kiranya belum sepenuhnya terwadahi dalam bahasa kita
sejauh ini.
Secara sederhana kita dapat mengatakan bahwa karya
Ja’far al-Barzanji merupakan biografi puitis Nabi Muhammad SAW. Dalam
garis besarnya, karya ini terbagi dua: “Natsar” dan “Nadhom”. Bagian
“Natsar” terdiri atas 19 subbagian yang memuat 355 untaian syair,
dengan mengolah bunyi “ah” pada tiap-tiap rima akhir. Seluruhnya
menurutkan riwayat Nabi Muhammad SAW, mulai dari saat-saat menjelang
paduka dilahirkan hingga masa-masa tatkala paduka mendapat tugas
kenabian. Sementara, bagian “Nadhom” terdiri atas 16 subbagian yang
memuat 205 untaian syair, dengan mengolah rima akhir “nun”.
Dalam
untaian prosa lirik atau sajak prosaik itu, terasa betul adanya
keterpukauan sang penyair oleh sosok dan akhlak Sang Nabi. Dalam bagian
“Nadhom”, misalnya, antara lain diungkapkan sapaan kepada Nabi pujaan:
Engkau mentari, engkau bulan/ Engkau cahaya di atas cahaya.
Di
antara idiom-idiom yang terdapat dalam karya ini, banyak yang dipungut
dari alam raya seperti matahari, bulan, purnama, cahaya, satwa, batu,
dan lain-lain. Idiom-idiom seperti itu diolah sedemikian rupa, bahkan
disenyawakan dengan shalawat dan doa, sehingga melahirkan sejumlah
besar metafor yang gemilang. Silsilah Sang Nabi sendiri, misalnya,
dilukiskan sebagai “untaian mutiara”.
Namun, bahasa puisi yang
gemerlapan itu, seringkali juga terasa rapuh. Dalam karya Ja’far
al-Barzanji pun, ada bagian-bagian deskriptif yang mungkin terlampau
meluap. Dalam bagian “Natsar”, misalnya, sebagaimana yang diterjemahkan
oleh HAA Dahlan, kita mendapatkan lukisan demikian: Dan setiap
binatang yang hidup milik suku Quraisy memperbincangkan kehamilan Siti
Aminah dengan bahasa Arab yang fasih.
Betapapun, kita dapat
melihat teks seperti ini sebagai tutur kata yang lahir dari perspektif
penyair. Pokok-pokok tuturannya sendiri, terutama menyangkut riwayat
Sang Nabi, terasa berpegang erat pada Alquran, hadis, dan sirah
nabawiyyah. Sang penyair kemudian mencurahkan kembali rincian kejadian
dalam sejarah ke dalam wadah puisi, diperkaya dengan imajinasi puitis,
sehingga pembaca dapat merasakan madah yang indah.
Salah satu hal
yang mengagumkan sehubungan dengan karya Ja’far al-Barzanji adalah
kenyataan bahwa karya tulis ini tidak berhenti pada fungsinya sebagai
bahan bacaan. Dengan segala potensinya, karya ini kiranya telah ikut
membentuk tradisi dan mengembangkan kebudayaan sehubungan dengan cara
umat Islam di berbagai negeri menghormati sosok dan perjuangan Nabi
Muhammad SAW.
Sumber: republika.co.id
Tidak ada komentar:
Posting Komentar