S A R A P A N
Sarapan merupakan kegiatan memakan makanan di waktu
pagi. Biasanya kisaran pukul enam sampai tidak melebihi pukul sembilan. Aku
melakukannya setiap pagi, kecuali saat puasa, termasuk puasa senin kamis yang
kami biasakan. Sarapannya dimajukan menjadi pukul tiga atau setengah empat dini
hari, biasa disebut sahur. Menu yang dimakan tidak neko-neko, sederhana.
Semisal nasi dan telor ceplok saja, kadang nasi dan tumis kacang panjang dan
tempe goreng. Pernah nasi dan mie goreng belaka. Semua beralasan sarapan hanya
pemupuk fisik untuk dimulainya aktifitas bekerja. Jadi, tidaklah pantas sarapan menggunakan
menu berat, banyak, dan beragam.
Pagi ini, meja makan yang biasa kugunakan untuk
sarapan berdiri tegak tanpa ada yang menghiasi punggungnya. Bahkan kosong tak
berpiring tak bersendok sekalipun. Aku heran dan menatap tajam. Kebiasaanku
sarapan tentu membantu perutku manja dan harus selalu sarapan. Sedang kali ini
tidak ada yang bisa kumakan, oh perih sekali rasa lapar ini. Oh nyaring
nian bunyi keroncongan perutku ini.
Kuhampiri kamar adikku, ya adikku. Karena di kontrakan
mungil ini hanya ada aku dan adik perempuanku. Dialah seksi konsumsi (pengelola
perihal makan memakan) di kediaman sederhana ini. Kulihat ia sedang berbaring
miring di alas berkasur tipis penghias kamarnya. Entah matanya terpejam atau
tidak, yakinku ia tidur. Gemuruh keroncongan perut laparku spontan menaikkan
darahku, aku geregetan dan marah-marah adalah pemuasnya. Ya aku marah.
"Hai Dinda, apa kau tak melihat jam dinding di
kamarmu itu? Haah" kata-kataku seketika membangunkannya. Ia menaikkan
badannya, menyela belelek di kedua matanya, dan melihat jam dinding di
kamarnya.
"Iya, apa yang Kakanda ingatkan padaku?"
jawabnya serasa tidak ada apa-apa. Nada bicaraku yang tak biasa kukira
memahamkannya bahwa aku sedang marah. Nyatanya ia acuh dan seolah-olah sedang
tak ada masalah.
"Sarapan, Dinda. Apa kau sengaja acuh dan tidak
mempersiapkan sarapan seperti biasa? Ah kau ini" ucapku memberi kesan
frustasi.
"Hehe" dia tersenyum. Rautnya sungguh biasa.
Sama sekali tak ada kesan bahwa ia lupa, merasa bersalah, dan berlari menuju
dapur lalu menyiapkan sarapanku.
"Kakanda ini bagaimana sih. Inikan hari senin,
Ka. Puasa"
"Haah, puasa?" aku lemas mendengarnya.
Benda Brebes, 06 Oktober 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar