Kamis, 22 Oktober 2015

Cerito Cekak; S A R A P A N

S A R A P A N

Sarapan merupakan kegiatan memakan makanan di waktu pagi. Biasanya kisaran pukul enam sampai tidak melebihi pukul sembilan. Aku melakukannya setiap pagi, kecuali saat puasa, termasuk puasa senin kamis yang kami biasakan. Sarapannya dimajukan menjadi pukul tiga atau setengah empat dini hari, biasa disebut sahur. Menu yang dimakan tidak neko-neko, sederhana. Semisal nasi dan telor ceplok saja, kadang nasi dan tumis kacang panjang dan tempe goreng. Pernah nasi dan mie goreng belaka. Semua beralasan sarapan hanya pemupuk fisik untuk dimulainya aktifitas bekerja.  Jadi, tidaklah pantas sarapan menggunakan menu berat, banyak, dan beragam.
Pagi ini, meja makan yang biasa kugunakan untuk sarapan berdiri tegak tanpa ada yang menghiasi punggungnya. Bahkan kosong tak berpiring tak bersendok sekalipun. Aku heran dan menatap tajam. Kebiasaanku sarapan tentu membantu perutku manja dan harus selalu sarapan. Sedang kali ini tidak ada yang bisa kumakan, oh perih sekali rasa lapar ini. Oh nyaring nian bunyi keroncongan perutku ini.
Kuhampiri kamar adikku, ya adikku. Karena di kontrakan mungil ini hanya ada aku dan adik perempuanku. Dialah seksi konsumsi (pengelola perihal makan memakan) di kediaman sederhana ini. Kulihat ia sedang berbaring miring di alas berkasur tipis penghias kamarnya. Entah matanya terpejam atau tidak, yakinku ia tidur. Gemuruh keroncongan perut laparku spontan menaikkan darahku, aku geregetan dan marah-marah adalah pemuasnya.  Ya aku marah.
"Hai Dinda, apa kau tak melihat jam dinding di kamarmu itu? Haah" kata-kataku seketika membangunkannya. Ia menaikkan badannya, menyela belelek di kedua matanya, dan melihat jam dinding di kamarnya.
"Iya, apa yang Kakanda ingatkan padaku?" jawabnya serasa tidak ada apa-apa. Nada bicaraku yang tak biasa kukira memahamkannya bahwa aku sedang marah. Nyatanya ia acuh dan seolah-olah sedang tak ada masalah.
"Sarapan, Dinda. Apa kau sengaja acuh dan tidak mempersiapkan sarapan seperti biasa? Ah kau ini" ucapku memberi kesan frustasi.
"Hehe" dia tersenyum. Rautnya sungguh biasa. Sama sekali tak ada kesan bahwa ia lupa, merasa bersalah, dan berlari menuju dapur lalu menyiapkan sarapanku.
"Kakanda ini bagaimana sih. Inikan hari senin, Ka. Puasa"
"Haah, puasa?" aku lemas mendengarnya.
Benda Brebes, 06 Oktober 2015

Tidak ada komentar:

Posting Komentar