Minggu, 22 November 2015

Uang dan EMbah Suyad



Uangku tak terhingga jumlahnya. Aku kini manusia terkaya di desa. Merealisasikan apa yang kuinginkan sangatlah mudah saja. Jangankan membeli mobil mewah, kebijakan yang tidak sepaham akan kutentang dengan uangku yang tak terhingga biar searah. Uangku tak terhingga jumlahnya. Lembaran demi lembaran kuagungkan.  Beragam mata uang berbagai negara ada di brangkas dan tabungan. Bisa jadi, bagiku kini uang laksana tuhan. Tak ada seorang pun kepadaku yang berani membangkang.
"Uangmu boleh banyak, Juragan. Tapi ingat, itu semua tidaklah kekal"
"Jiancuk (maaf, kata umpatan), siapa yang berani menulis dan mengirim tulisan tak berpengirim ini?" kagetku sesaat setelah membuka pintu di pagi buta. Cukup kuat membuatku resah. Selirku meredam amarahku.
"Jika saja kutahu penulis dan pengirimnya, kan kubeli mereka dengan uangku" congkakku belum lega. Aku sungguh resah.
"Sudahlah, Juragan. Anggap saja anjing menggonggong" kuteredam.

Uangku tak terhingga jumlahnya. Dari yang dulunya tidak punya, kini aku kaya. Jangankan membeli pekarangan dan sawah, berbagai macam galian tambang yang berpotensi menghasilkan pun kukalungi mereka dengan uang. Biar tak ada seorang tetangga dan warga desa yang berani membangkang.
"Juragan nan budiman, kapan kau sudahi rasa kumanthilmu pada uang? Bukankah sumber kebahagiaan abadi tidak ada pada diri uang? Ingat masa sebelum jayamu, Juragan"
"Buajigur (maaf, kata umpatan), kurang ajar" kagetku lagi di pagi buta seperti biasa. Kali ini amarahku bergemuruh. Resahku beranjak dan darah segarku serasa naik kepelupuk mata.
"Pengawal.."
"Siap, Juragan. Ada yang bisa kami bantu?" jawab mereka kompak.
"Cari penulis dan pengirim surat kaleng ini. Bawa padaku hidup-hidup!" intruksiku mantap, mataku melotot dan geraham di kedua ujung gigiku kugigit kuat-kuat.
Selang beberapa waktu, pengawal yang kuperintah datang dengan membawa sepasang mata bertubuh kurus bak kancil.
"Siapa namamu, pemuda dekil berbadan kurus?" tanyaku sembari menjambak rambut kumelnya.
"S s salim, Juragan" jawabnya terbata-bata.
"Apa pekerjaanmu, Salim?"
"Pengirim surat dan sesekali menuliskannya" jawabnya tetap tegar.
"Ooh" denyut nadiku seketika mengencang. Ingin rasanya kumencekik leher pemuda pemberani pengirim surat di hadapanku ini.
"A a ada apa juragan memanggilku secara paksa?" tanyanya datar. Kupandangi wajah polosnya dengan seksama, yang kudapati hanya rasa kesuh dan amarah yang menggelora.
"Kenapa kau memberiku surat kaleng di waktu pagi yang berisi tausiyah tak berguna, Salim?" tanyaku bernada tinggi.
"Apa yang kau maksud, Juragan. Aku tak.."
"Plaakk" telapak tangan bagian dalamku terasa hangat lebam pipinya.
"Kau tidak mau mengaku, Salim?"
"Apa yang harus kuakui, Juragan?"
"Plaakk plaakk. Kubunuh kau, Salim" amarahku membabi buta. Beberapa menit kemudian nyawanya sudah tak ada.
"Lihatlah kau, Salim. Tanganku menentukan nyawamu" angkuhku puas.
"Kubur ia denag uang recehku, pengawal!" angkuhku kemudian.

Hari semakin terik, sang mentari memancarkan agung cahayanya. Aku dan beberapa kolega melihat-lihat tambang pasir salah satu sumber kekayaan. Menerka-nerka proyek yang sedang berjalan. Berencana memperluas eksploitasi dan galian. Aku sesumbar dan sesumringah mentari siang.
"Juragan, ada yang datang " ucap anak buahku unggah-ungguh, "Siapa?" tanyaku heran, "Lelaki setengah baya, Juragan. Mungkin penghuni gubuk dekat penambangan" jawabnya. Kuambil selembar seratus ribuan, "Nih, kasihkan kepadanya dan suruh ia pergi".
"Maaf, Juragan. Lelaki itu tidak mau menerima uang juragan. Ia menitipkan selembar kertas ini untuk juragan" anak buahku kembali menghampiriku dan menyodorkan selembar kertas usang.
"Oh, congkak banget dia, tak mau menerima uangku? hmm" ucapku kecut. Kuterima selembar kertas usangnya dan kubaca dengan santai, sesekali tak kupandangi baris tulisan rapinya.
"Dulu, uang diciptakan memang sengaja untuk memberi cobaan kepada manusia, Juragan" isi surat itu tegas menuliskan, aku sedikit terpaku dan teringat Salim yang kubunuh beberapa hari belakangan.
"Konon, saat pembuatan uang, syetan menghampiri dan mengambil selembar uang. Ia menempelkannya di jidat dan memproklamirkan kepada khalayak pembuat uang bahwa uang, kelak, akan merusak jiwa raga manusia sebagai otoritas tertinggi pengelolanya. Pahamkah kau, Juragan?" isinya semakin tak sopan dan membuat gerahamku saling berbenturan.
"Pengawal, pengawaaal"
"Iya, Juragan. Ada yang harus kukerjakan?" nampak anak buahku 'tadi' menghampiri,
"Kau ingat orang barusan?"
"Iya, Juragan. Kenapa?"
"Cari dan bawa ia kepadaku!"
"Siap, Juragan" anak buahku mencari teman dan mereka dengan segera berpencar.
Satu dua hari, pencarian mereka tidak menghasilkan. Jangankan menemukan tempat tinggalnya yang katanya dekat area penambangan, melihatnya lalu lalang saja tidak. Sudah berulangkali menanyakan tentang lelaki itu kepada warga masyarakat, nihil.
"Maaf, Juragan" pinta anak buahku setelah menceritakan pencariannya. Aku sedikit naik pitam, namun selirku segera meredam. Lembut jemari selirku memadaman gemuruh dadaku.
"Nanti malam kita cari bersama-sama. Bawa 40 orang" aku memutuskan,
"Siap, Juragan" mereka beranjak dan selirku duduk kembali di pangkuan.

Tepat pukul delapan malam aku dan 40 anak buahku berangkat menyusur seperti hendak berperang. Dan mengitari jalanan berkelok di penjuru pedesaan. Desa tempat aku dilahirkan. Desa tempat aku meniti jalan terjal kehidupan. Desa yang kini kukuasai dan sudah hampir 40% potensi alamnya kueksploitasi. Desa dengan penduduk berpendidikan rendah, sehinggah saat kubohongi mudah. Kuisi sakunya dengan uang saja mereka terperangah, desa dengan segala sumber daya manusia lemah.
"Juragan, lihat itu, Juragan!" anak buahku tiba-tiba membuyarkan lamunanku,
"Itukah lelaki yang mengirimku surat, pangawal?"
"Iya, Juragan"
"Tangkap ia!" aku memerintah. Segerombolan pengawal berpencar dan ia berlari kencang, pengawal tak berhasil menangkap. Aku geram dan dari atas mobil aku menerbangkan belati tajam, menghujam.  Tubuh kurus rentanya dibaringkan di hadapanku. Ironis, menurut pengakuan pengawal yang mengenal tampangnya, ia bukan lelaki setengah baya yang lancang memeberiku surat tausiyah kemaren. Pengawal menguburnya dengan uang receh di pinggir kalen (anak sungai).
Pencarian kembali digalakkan. Semua mata pengawal melihat tajam setiap sudut jalan yang kadang-kadang gelap dan tak ramah lingkungan.
"Di pojok gang itu ada lelaki setengah baya, Juragan"
"Apa kau yakin dia lelaki yang sedang kita cari?"
"Aku yakin, Juragan"
"Oke, kita sergap dari semua penjuru. Ingat, yang boleh menindaklanjuti dan memerintah hanya aku" kataku seketika memimpin penyergapan.
Aku, selirku dan enam pengawal menyergap melalui jalan yang memunggunginya. Selainku menyergap dari semua arah yang kuperintahkan. Aku, selirku dan enam pengawal berjalan pelan. Menyusur dan punggungnya kelihatan. Karena geregetan dan tak sabar, aku menarik nafas dalam-dalam dan berjalan cepat ke arahnya. Menangkap tanganya. Walau tanpa perlawanan, aku takut ia terlepas dan kuhujam kepalanya dengan bogem mentahku. Ia tersungkur dan tengkurap mencium basah bumi.
"Hore, hore" terdengar sorak riuh para pengawal dan anak buahku. Aku isyaratkan mereka agar diam.
"Balikkan tubuhnya, pengawal!" perintahku. Sesaat setelah tubuh rentanya terbalik, aku menatapnya tajam. Nampak remang-remang. Kuterangi ia dan kuamati inci demi inci lekuk tubuh dan tentu wajahnya. Serasa kenal.
"Embah…" rintihku seketika. Kugrayangi wajah sayunya, hatiku menumbuhkan penyesalan dan iba. Ingatanku mengaung kembali pada beberapa tahun silam ketika hanya aku dan embahku, embah Suyad, hidup sengsara di pinggiran desa. Jangankan merasakan sayur mayur dan ikan, nasi jagung yang aku dan embah Suyad makan saja tak berlauk. Kadang sekali dalam sehari, kalau lagi mujur dua kali. Aku meminta dengan sangat kepada embah Suyad agar ia berkenan bangun tengah malam dan mendoakanku agar kaya. Ia berkenan sampai waktu yang tak kuketahui ujungnya. Karena setelah doanya terkabul, aku mengembara dan pulang dalam keadaan kaya dan 'lupa' kepadanya.
"Embah Suyad, maafkan aku, Embah" para pengawal dan anak buahku terpana, mereka khidmah menyaksikan rintih dan isak penyesalanku.
Brebes, 22 November 2015.
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com

Tidak ada komentar:

Posting Komentar