Uangku tak terhingga jumlahnya. Aku kini manusia
terkaya di desa. Merealisasikan apa yang kuinginkan sangatlah mudah saja. Jangankan
membeli mobil mewah, kebijakan yang tidak sepaham akan kutentang dengan uangku
yang tak terhingga biar searah. Uangku tak terhingga jumlahnya. Lembaran demi
lembaran kuagungkan. Beragam mata uang
berbagai negara ada di brangkas dan tabungan. Bisa jadi, bagiku kini uang
laksana tuhan. Tak ada seorang pun kepadaku yang berani membangkang.
"Uangmu boleh banyak, Juragan. Tapi
ingat, itu semua tidaklah kekal"
"Jiancuk (maaf, kata umpatan),
siapa yang berani menulis dan mengirim tulisan tak berpengirim ini?"
kagetku sesaat setelah membuka pintu di pagi buta. Cukup kuat membuatku resah.
Selirku meredam amarahku.
"Jika saja kutahu penulis dan
pengirimnya, kan kubeli mereka dengan uangku" congkakku belum lega. Aku
sungguh resah.
"Sudahlah, Juragan. Anggap saja anjing
menggonggong" kuteredam.
Uangku tak terhingga jumlahnya. Dari yang
dulunya tidak punya, kini aku kaya. Jangankan membeli pekarangan dan sawah,
berbagai macam galian tambang yang berpotensi menghasilkan pun kukalungi mereka
dengan uang. Biar tak ada seorang tetangga dan warga desa yang berani
membangkang.
"Juragan nan budiman, kapan kau sudahi
rasa kumanthilmu pada uang? Bukankah sumber kebahagiaan abadi tidak ada
pada diri uang? Ingat masa sebelum jayamu, Juragan"
"Buajigur (maaf, kata umpatan),
kurang ajar" kagetku lagi di pagi buta seperti biasa. Kali ini amarahku
bergemuruh. Resahku beranjak dan darah segarku serasa naik kepelupuk mata.
"Pengawal.."
"Siap, Juragan. Ada yang bisa kami
bantu?" jawab mereka kompak.
"Cari penulis dan pengirim surat
kaleng ini. Bawa padaku hidup-hidup!" intruksiku mantap, mataku melotot
dan geraham di kedua ujung gigiku kugigit kuat-kuat.
Selang beberapa waktu, pengawal yang
kuperintah datang dengan membawa sepasang mata bertubuh kurus bak kancil.
"Siapa namamu, pemuda dekil berbadan
kurus?" tanyaku sembari menjambak rambut kumelnya.
"S s salim, Juragan" jawabnya
terbata-bata.
"Apa pekerjaanmu, Salim?"
"Pengirim surat dan sesekali
menuliskannya" jawabnya tetap tegar.
"Ooh" denyut nadiku seketika
mengencang. Ingin rasanya kumencekik leher pemuda pemberani pengirim surat di
hadapanku ini.
"A a ada apa juragan memanggilku
secara paksa?" tanyanya datar. Kupandangi wajah polosnya dengan seksama,
yang kudapati hanya rasa kesuh dan amarah yang menggelora.
"Kenapa kau memberiku surat kaleng di
waktu pagi yang berisi tausiyah tak berguna, Salim?" tanyaku
bernada tinggi.
"Apa yang kau maksud, Juragan. Aku
tak.."
"Plaakk" telapak tangan bagian
dalamku terasa hangat lebam pipinya.
"Kau tidak mau mengaku, Salim?"
"Apa yang harus kuakui, Juragan?"
"Plaakk plaakk. Kubunuh kau,
Salim" amarahku membabi buta. Beberapa menit kemudian nyawanya sudah tak
ada.
"Lihatlah kau, Salim. Tanganku
menentukan nyawamu" angkuhku puas.
"Kubur ia denag uang recehku,
pengawal!" angkuhku kemudian.
Hari semakin terik, sang mentari
memancarkan agung cahayanya. Aku dan beberapa kolega melihat-lihat tambang
pasir salah satu sumber kekayaan. Menerka-nerka proyek yang sedang berjalan.
Berencana memperluas eksploitasi dan galian. Aku sesumbar dan sesumringah
mentari siang.
"Juragan, ada yang datang " ucap
anak buahku unggah-ungguh, "Siapa?" tanyaku heran, "Lelaki
setengah baya, Juragan. Mungkin penghuni gubuk dekat penambangan" jawabnya.
Kuambil selembar seratus ribuan, "Nih, kasihkan kepadanya dan suruh
ia pergi".
"Maaf, Juragan. Lelaki itu tidak mau
menerima uang juragan. Ia menitipkan selembar kertas ini untuk juragan"
anak buahku kembali menghampiriku dan menyodorkan selembar kertas usang.
"Oh, congkak banget dia, tak
mau menerima uangku? hmm" ucapku kecut. Kuterima selembar kertas
usangnya dan kubaca dengan santai, sesekali tak kupandangi baris tulisan
rapinya.
"Dulu, uang diciptakan memang sengaja
untuk memberi cobaan kepada manusia, Juragan" isi surat itu tegas
menuliskan, aku sedikit terpaku dan teringat Salim yang kubunuh beberapa hari
belakangan.
"Konon, saat pembuatan uang, syetan
menghampiri dan mengambil selembar uang. Ia menempelkannya di jidat dan
memproklamirkan kepada khalayak pembuat uang bahwa uang, kelak, akan merusak
jiwa raga manusia sebagai otoritas tertinggi pengelolanya. Pahamkah kau, Juragan?"
isinya semakin tak sopan dan membuat gerahamku saling berbenturan.
"Pengawal, pengawaaal"
"Iya, Juragan. Ada yang harus
kukerjakan?" nampak anak buahku 'tadi' menghampiri,
"Kau ingat orang barusan?"
"Iya, Juragan. Kenapa?"
"Cari dan bawa ia kepadaku!"
"Siap, Juragan" anak buahku
mencari teman dan mereka dengan segera berpencar.
Satu dua hari, pencarian mereka tidak
menghasilkan. Jangankan menemukan tempat tinggalnya yang katanya dekat area
penambangan, melihatnya lalu lalang saja tidak. Sudah berulangkali menanyakan tentang
lelaki itu kepada warga masyarakat, nihil.
"Maaf, Juragan" pinta anak buahku
setelah menceritakan pencariannya. Aku sedikit naik pitam, namun selirku segera
meredam. Lembut jemari selirku memadaman gemuruh dadaku.
"Nanti malam kita cari bersama-sama.
Bawa 40 orang" aku memutuskan,
"Siap, Juragan" mereka beranjak
dan selirku duduk kembali di pangkuan.
Tepat pukul delapan malam aku dan 40 anak
buahku berangkat menyusur seperti hendak berperang. Dan mengitari jalanan
berkelok di penjuru pedesaan. Desa tempat aku dilahirkan. Desa tempat aku
meniti jalan terjal kehidupan. Desa yang kini kukuasai dan sudah hampir 40%
potensi alamnya kueksploitasi. Desa dengan penduduk berpendidikan rendah,
sehinggah saat kubohongi mudah. Kuisi sakunya dengan uang saja mereka
terperangah, desa dengan segala sumber daya manusia lemah.
"Juragan, lihat itu, Juragan!"
anak buahku tiba-tiba membuyarkan lamunanku,
"Itukah lelaki yang mengirimku surat,
pangawal?"
"Iya, Juragan"
"Tangkap ia!" aku memerintah.
Segerombolan pengawal berpencar dan ia berlari kencang, pengawal tak berhasil
menangkap. Aku geram dan dari atas mobil aku menerbangkan belati tajam,
menghujam. Tubuh kurus rentanya
dibaringkan di hadapanku. Ironis, menurut pengakuan pengawal yang mengenal
tampangnya, ia bukan lelaki setengah baya yang lancang memeberiku surat tausiyah
kemaren. Pengawal menguburnya dengan uang receh di pinggir kalen (anak
sungai).
Pencarian kembali digalakkan. Semua mata
pengawal melihat tajam setiap sudut jalan yang kadang-kadang gelap dan tak
ramah lingkungan.
"Di pojok gang itu ada lelaki setengah
baya, Juragan"
"Apa kau yakin dia lelaki yang sedang
kita cari?"
"Aku yakin, Juragan"
"Oke, kita sergap dari semua penjuru.
Ingat, yang boleh menindaklanjuti dan memerintah hanya aku" kataku
seketika memimpin penyergapan.
Aku, selirku dan enam pengawal menyergap
melalui jalan yang memunggunginya. Selainku menyergap dari semua arah yang
kuperintahkan. Aku, selirku dan enam pengawal berjalan pelan. Menyusur dan
punggungnya kelihatan. Karena geregetan dan tak sabar, aku menarik nafas
dalam-dalam dan berjalan cepat ke arahnya. Menangkap tanganya. Walau tanpa
perlawanan, aku takut ia terlepas dan kuhujam kepalanya dengan bogem mentahku.
Ia tersungkur dan tengkurap mencium basah bumi.
"Hore, hore"
terdengar sorak riuh para pengawal dan anak buahku. Aku isyaratkan mereka agar
diam.
"Balikkan tubuhnya, pengawal!"
perintahku. Sesaat setelah tubuh rentanya terbalik, aku menatapnya tajam.
Nampak remang-remang. Kuterangi ia dan kuamati inci demi inci lekuk tubuh dan
tentu wajahnya. Serasa kenal.
"Embah…" rintihku seketika.
Kugrayangi wajah sayunya, hatiku menumbuhkan penyesalan dan iba. Ingatanku
mengaung kembali pada beberapa tahun silam ketika hanya aku dan embahku, embah
Suyad, hidup sengsara di pinggiran desa. Jangankan merasakan sayur mayur dan
ikan, nasi jagung yang aku dan embah Suyad makan saja tak berlauk. Kadang
sekali dalam sehari, kalau lagi mujur dua kali. Aku meminta dengan sangat
kepada embah Suyad agar ia berkenan bangun tengah malam dan mendoakanku agar
kaya. Ia berkenan sampai waktu yang tak kuketahui ujungnya. Karena setelah
doanya terkabul, aku mengembara dan pulang dalam keadaan kaya dan 'lupa'
kepadanya.
"Embah Suyad, maafkan aku, Embah" para
pengawal dan anak buahku terpana, mereka khidmah menyaksikan rintih dan isak
penyesalanku.Brebes, 22 November 2015.
Blog post ini dibuat dalam rangka mengikuti Kompetisi Menulis Cerpen “Pilih Mana: Cinta Atau Uang?” #KeputusanCerdas yang diselenggarakan oleh www.cekaja.com danNulisbuku.com
Tidak ada komentar:
Posting Komentar