Huda dan Hidayah adalah kakak beradik dari
pasangan Bapak Hadun dan Ibu Hindun. Huda kelas enam SD dan adiknya, Hidayah
kelas tiga SD. Keduanya berada di sekolahan yang sama, untuk mempermudah
pengawasan dari orang tua mereka.
Suatu hari, ketika Hidayah berangkat ke
sekolah bersepeda dengan Huda, pukul setengah tujuh, mereka melihat orang tua
renta yang kelihatan sedang kebingungan, di tangan orang tua renta itu ada
sebungkus plastik hitam. Lantaran Huda merasa simpati, dia mengajak Hidayah
menghampiri orang tua itu,
“Jangan ah Kak, nanti kalau dia penjahat,
bagaimana Kak?” tolak Hidayah takut,
“Orang setua itu dikira penjahat, Dik? Tidak
mungkin, jalan saja kelimpungan begitu. Ayo lah hampiri ia sejenak” rayu Huda,
dan Hidayah mengiyakan.
“Permisi, kalau boleh tahu, bapak hendak
kemana?” tanya Huda memulai dengan ramah, orang tua itu agak terkejut dan
menoleh sedikit ke arah keduanya,
“Bapak mau menemui anak Bapak” jawabnya polos,
bicaranya sudah tidak begitu lancar, nampak jelas raut tua dan kelemah-lunglaiannya,
“Rumah anak Bapak di mana?” tanya Huda
kemudian,
“Tidak tahu” jawabnya lagi terbata-bata, Huda
mengkeryitkan dahi, Hidayah khusyuk menyimaknya,
“Lho, kok tidak tahu, Pak? Memangnya Bapak
dari mana?” tanya Huda lagi, ia merasa iba,
“Saya dari sukabumi, Nak. Anak saya sudah lima
tahun ini merantau ke Jakarta, dia tidak pernah pulang” jawabnya mulai terisak,
gagap ucapannya terdengar serak lantaran kerongkongan tuanya. Seketika Huda
berfikir keras bagaimana cara menolong orang tua naas ini,
“Menurut Dik Hidayah bagaimana?” ucap Huda
meminta pendapat adiknya,
“Hmm, dibawa ke sekolahan saja, Kak” jawab
Hidayah spontan,
“Haaah dibawa ke sekolahan? Terus nanti di
sekolahan bagaimana?” tanya Huda lagi bingung,
“Hehe tidak tahu, Kak” jawab Hidayah sambil
tersenyum aleman. Huda memejamkan mata sebentar, tanda ia sedang
berfikir. Lalu ketika matanya terbuka ia langsung mendekati orang tua itu lebih
dekat lagi,
“Bapak ikut saya saja ke sekolah ya, Pak?”
tawar Huda halus,
“Tidak, Nak. Saya akan menemui anak saya saja”
jawab orang tua itu menolak. Huda menoleh ke arah Hidayah, Hidayah
geleng-geleng kepala saja,
“Bagaimana nih, Dik?” tanya Huda
berharap ada cara,
“Ya sudah, Kak, kalau tidak mau ya sudah”
jawab Hidayah enteng. Huda terdiam dan nampak menahan gemes pada adiknya itu,
“Terhadap sesama manusia itu kita harus saling
menolong, Dik. Apalagi terhadap oarang yang sedang tersesat dan sesusahan
seperti Bapak ini” bicara Huda menasehati, Hidayah mengiyakan dan hanya senyum
saja,
“Dik, bagaimana ini?”
“Tidak tahu, Kak”
“Kalau kita antar saja ke rumah anaknya itu
bagaimana, Dik?” ucap Huda mencoba berdiskusi. Berdiskusi memang budaya yang
selalu ditekankan kedua orang tua Huda dan Hidayah di manapun. Hal tersebut
sudah terpupuk dalam diri Huda dan mulai menyemai di diri Hidayah,
“Nanti sekolah kita terlambat, Kak?” jawab Hidayah polos,
“Nanti sekolah kita terlambat, Kak?” jawab Hidayah polos,
“Alamat anak Bapak ini itu tidak jauh dari
sekolah kita, Dik. Nanti setelah mengantarkan Bapak ini kita langsung ke sekolah,
bagaimana?” Huda menjelaskan, lantaran Huda baru saja meliaht alamat anak orang
tua itu, Hidayah yang masih berusia delapan tahun kelihatan bingung dan mulai
berfikir, ia teringat perkataan Ibunya kemarin; kebaikan yang tulus itu akan
menularkan kebaikan selanjutnya, jadi janganlah menunda perbuatan baik. Hidayah
sesegera mengiyakan pendapat kakaknya itu,
“Iya deh, Kak. Ayo kita berangkat ke alamat
anak Bapak itu” ucap Hidayah semangat, Huda sumringah dan menjawil pipi imut
Hidayah,
“Begitu dong, adik kakak yang baik” goda Huda.
Tanpa menunggu waktu lama, orang tua itu
membonceng sepeda Huda, sedang Hidayah mengikuti di belakangnya.
Sesampai di alamat yang di tuju, raut wajah
orang tua itu berseri-seri dan memendung hendak mengeluarkan air mata, lantaran
sebentar lagi ia akan bertemu anaknya yang sudah lama tidak ia jumpai itu.
Mereka bertiga berbarengan melangkah ke
halaman rumah berukuran sedang yang dimaksud, orang tua itu nampak tergesa-gesa
dan segera mengetok pintunya di sertai salam, namun tidak ada yang menjawab dan
membukanya. Orang tua itu mengulangi ketokannya dan salam, masih terdiam dan
tak ada yang membuka. Huda melangkah ke depan dan mengetoknya di sertai salam
pula, selang kemudian terdengar jawaban salam dari dalam, dan terbukalah pintu itu,
“Siapa yah? Mau mencari siapa?” sapa seorang
perempuan muda dengan mengenakan daster kusuh,
“Ini benar rumahnya Pak Kosasih?” tanya Huda
mendahului orang tua itu yang mulutnya sudah siap berucap,
“Iya, Kosasihnya ada? Mana dia? Saya bapaknya”
ucap orang tua itu terburu-buru, ia sudah menahan rindu yang begitu dalam.
Perempuan itu memperlihatkan wajah terkejut dan berseri-seri tersenyum kecil,
“Ini Bapak? Ini Pak Tasmadi dari Sukabumi?
Bapaknya Aa Kosasih? Ya ampun Bapak” ucap perempuan itu sambil terisak,
“Saya Sunarti, Pak, menantu Bapak. Maaf Pak
belum sempat menjenguk Bapak” imbuh perempuan itu menambahi,
“Iya tidak apa-apa. Ko ko kosasihnya mana?”
orang tua itu merasa maklum dan sekali lagi menanyakan anaknya dengan
terbata-bata,
“Aa Kosnya sedang bekerja, Pak. Oh iya
silahkan masuk silahkan. La anak-anak ini siapa, Pak?” perempuan itu
mempersilahkan Bapak, Huda, dan Hidayah,
“Mereka yang menolong saya dan menghantarkan
saya ke sini” jawab orang tua itu,
“Oh ya ampun, terima kasih, Adik-adik. Kalian baik
sekali, semoga selalu diberi kelancaran dalam belajar” ucap perempuan itu
sumringah dan mengelus pipi Hidayah,
“amiin, Sama-sama Bu. Maaf sebelumnya” balas
Huda,
“Kami pamit saja, karena kami harus sekolah”
lanjutnya,
“Iya iya silahkan, hati-hati di jalan” ucap
perempuan itu. Keduannya berlalu dengan didahului salaman keduanya kepada
perempuan dan orang tua itu. Perempuan dan orang tua itu sumringah dan merasa
bangga ada anak-anak sebaik Huda dan Hidayah.
Huda dan Hidayah dengan cepat namun hati-hati
mengayuh sepeda mereka, sesampai di sekolah, upacara bendera sudah dimulai,
Huda dan Hidayah memasuki arena upacara, namun ketahuan Pak Karto,
“Huda dan Hidayah kok terlambat” sapa
Pak Karto dari depan Huda dan Hidayah, mereka kaget dan ada raut gugup,
“Maaf, Pak, kami tadi harus menghantarkan
orang tua yang kelelahan dan sedang bingung mencari rumah anaknya” ucap Huda
apa adanya,
“Benar, Hidayah?” tanya Pak Karto kepada
Hidayah,
“Benar, Pak. Kami menemukannya di jalan,
Karena orang tua itu sedang bingung kami menolongnya” jawab Hidayah polos. Pak
Karto percaya, terenyuh dan membawa keduanya ke depan, setelah itu Pak karto
mengumumkan kepada peserta upacara;
“Peserta upacara semuanya, Huda dan Hidayah
terlambat upacara dua menit”
“Huuuuuh” riuh sebagian peserta upacara, Huda
dan Hidayah nampak malu seketika,
“Perlu kalian ketahui semua, keduanya
terlambat karena terlebih dahulu menolong orang tua yang sedang kebingungan dan
hendak mencari rumah anaknya” sambung Pak Karto menggelegar, sambutan tepuk
tangan meriah pun datang menggema dari seluruh peserta upacara, Huda dan
Hidayah tersenyum, Pak Karto pun juga,
“Perbuatan Huda dan Hidayah adalah contoh budi
pekerti yang baik. Kalian, wahai anak-anakku, contohlah mereka, tampilkan budi
pekerti baik kalian baik di sekolah, di rumah, maupun di lingkungan manapun”
ucap Pak Karto menggelegar,
“Sekali lagi, beri tepuk tangan untuk Huda dan
Hidayah” Pak Karto mengakhiri. Lalu Pak karto memeluk keduanya disertai gemuruh
tepuk tangan suka cita dari peserta upacara.
Benda, 06 Oktober 2014.
siiip dan asyik di baca!
BalasHapusNgudud dulu, lek :)
BalasHapus